Tampilkan postingan dengan label leitz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label leitz. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Februari 2013

Leica CL & Summicron 40mm

Babak 1: Wetzlar, Jerman, 1971.

Awal 1970an merupakan masa yang kelam bagi Leitz. Pada masa tersebut kamera rangefinder sudah ditinggalkan oleh konsumen yang lebih memilih kamera SLR. Produsen Jepang sendiri pada periode paruh kedua  dasawarsa 1960an sudah berbondong-bondong meninggalkan produk rangefinder mereka dan beralih ke SLR.

Dalam situasi yang prihatin ini Leitz memutuskan untuk meluncurkan 2 produk dalam waktu berdekatan. Produk pertama merupakan produk yang boleh dibilang gagal, dan produk kedua merupakan produk yang dikategorikan cemerlang, sangking cemerlang menjadi dilema bagi Leitz.




Produk pertama, Leica M5, diluncurkan pada tahun 1971. M5 memiliki styling yang sedikit berbeda dengan M4 pendahulunya. Konsumen pada umumnya sangat tidak antusias dengan Leica M5, dan segera sesudahnya M5 menjadi tipe Leica yang terlupakan.

Produk kedua, Leica CL, diluncurkan pada tahun 1973. Leica CL merupakan hasil kerjasama Leitz dengan Minolta. Leitz melisensikan design lensa Summicron 35mm beserta formula kaca optic kepada Minolta. Minolta memproduksi bodi kamera Leica CL dan lensa 40mm f/2 di Jepang, lalu dikirim ke Leitz untuk Quality Control. Harga Leica CL sengaja dipasang lebih murah dari Leica M4 atau M5 supaya menarik.


Minolta CL dengan Leica Summicron 40mm


Penjualan Leica CL meledak dan tercatat perbandingan penjualan 4 unit Leica CL untuk setiap 1 unit Leica M4. Namun kesuksesan ini tidak berlangsung lama karena Leitz memutuskan untuk menghentikan produksi Leica CL pada tahun 1976. Sebabnya tidak jelas, banyak pihak yang menyimpulkan bahwa Leitz takut Leica CL akan meng-kanibal produk mereka sendiri yaitu M4 dan M5.


Rancang Bangun Optik

Lensa 40mm f/2 yang dipasang pada Leica CL adalah jenis Summicron. Rancang bangun optik lensa 40mm ini dipercaya merupakan turunan dari Summicron 35mm versi 2 atau 3 dengan konfigurasi 6 elements 4 group, pola modified symmetrical Double Gauss.

Lensa yang dikirim Minolta ke Leitz menggunakan marking Leitz Summicron 40mm, sedangkan lensa sama yang dijual khusus untuk pasar Jepang menggunakan marking Minolta M-Rokkor 40mm. Semua lensa 40mm tahap pertama ini menggunakan Single Coating. Kedua lensa ini dibuat dalam mounting Leica M.



Voigtlander 40mm f/1.4 (kiri) & Minolta M-Rokkor 40mm f/2 (kanan)


Lensa 40mm ini menggunakan bahan kaca optik tipe LaFN2 yang dikembangkan oleh Leitz pada tahun 1969. LaFN2 adalah tipe bahan kaca optik dengan penambahan materi Lanthanum Oxide dan memiliki refractive index 1.7479, lebih tinggi dari bahan kaca optik tipe LaK9 (Leitz, 1953, Lanthanum Oxide) yang memiliki refractive index 1.694. Summicron 35mm versi 2 dan 3 juga menggunakan bahan kaca optik LaFN2.

Lanthanum Oxide sendiri merupakan materi yang bersifat radioaktif lemah dan memancarkan gelombang radioaktif Alpha meskipun tidak berbahya bagi kesehatan.

Lensa 40mm ini memiliki karakter kontras mid-high, tonal warna yang sangat khas Leica pada dasawarsa 1970an, dan distorsi yang sangat minim.

Erwin Putts pada buku Leica Copendium menilai kemampuan lensa ini berada diantara Summicron 35mm v3 dan Summicron 35mm v4. Karen Nakamura menilai lensa ini "....extremely sharp 6 elements...."


Babak 2: Kobe, Jepang, 1981.

Sesudah Leitz memutuskan untuk menghentikan produksi Leica CL, Minolta tetap memegang lisensi bodi CL dan Summicron 40mm. Minolta lalu mengembangkan penerus dari Leica CL yaitu Minolta CLE. CLE diluncurkan  pada tahun 1981 dan menggebrak pasaran dengan fitur TTL metering. Tidak pernah ada rangefinder dengan TTL metering sebelumnya, dan Leitz sendiri butuh waktu 20 tahun untuk menjawab gebrakan Minolta CLE dengan Leica M7.




Lensa M-Rokkor 40mm f/2 yang dipasang pada CLE adalah pengembangan lanjutan dari versi 1, namun dengan tekonologi Multi Coating dan pengendalian flare yang lebih baik. Lensa ini seperti versi 1, juga dibuat dalam mounting Leica M.

Lensa ini merupakan salah satu lensa rangefinder terbaik baik dari aspek ketajaman, kontras, ukuran yang kecil, dan handling, bahkan bila dibandingkan dengan lensa modern seperti Voigtlander Nokton 40mm f/1.4. Beberapa komentar dari reviewer internasional umumnya menyimpulkan “very sharp and contrasty, if not the sharpest 40mm ever created…”

Selain lensa 40mm ini, Minolta juga membuat lensa lain seri M-Rokkor yaitu:

  • 28mm f/2.8
  • 90mm f/4. Lensa ini diproduksi oleh Leitz di Wetzlar dengan marking Minolta M-Rokkor. Design dan bahan sama persis dengan Elmar 90mm.
Perlu diperhatikan bahwa seri M-Rokkor tidak ada hubungannya dengan lensa Rokkor lainnya yang dirancang buat kamera SLR.



*Contoh foto bisa dilihat di: http://www.flickr.com/groups/summicron-c/
*Summicron, istilah Leitz untuk menandakan lensa kamera dengan aperture maksimal f/2.
*M-Rokkor, istilah Minolta untuk menandakan lensa Rokkor dengan mounting Leica M. Nama Rokkor diambil dari Gunung Rokko, yang berdekatan dengan pabrik Minolta di Kobe, Jepang.

Update:
15 Maret 2013

Senin, 14 Januari 2013

Toptik: Visi & Misi

Salam kenal, nama saya Heru atau sering dikenal dengan nick Herno di forum fotografi. Ide Toptik lahir dari hobi saya sebagai fotografer amatir. Saya pertama belajar motret di tahun 1995 sewaktu saya masih kuliah di Melbourne, Australia.

Saya belajar secara mentoring kepada teman saya, Greg Cranwell, yang merupakan fotografer wedding di kota Geelong, Australia. Jadi sistem belajarnya dengan banyak membaca buku, diskusi, lalu trial-error, review, repeat. Saya sering berjalan kaki di Melbourne sambil mencari objek foto yang menarik. Saya foto dan buat contact print lalu saya tunjukin ke Greg. Kemudian dia memberi masukan dan koreksi dan saya latihan lagi, berulang-ulang. Sampai suatu hari dia menawarkan posisi sebagai asisten fotografer di studio dia. Dengan halus saya menolak karena saat itu saya tidak pernah berpikiran fotografi sebagai karir profesional.

Kamera yang saya pakai saat itu adalah Nikon FM2 dengan lensa Nikkor 105mm f/2.5 AI. Saya gunakan setup ini street-shooting. Alasannya adalah saya suka memotret orang tapi saya tidak suka terlalu dekat dengan orang yang saya potret. Saya orangnya memang cenderung sulit bersosialisasi. Film yang saya pakai biasanya Kodak Tri-X 400.

Contoh bodi Nikon FM2

Setup ini sangat berpengaruh kepada perkembangan saya karena dikemudian hari saya dengan gampang sekali menangani lensa kisaran 90mm-105mm untuk portrait, hampir seperti naluri kedua.

Cara belajar ini cukup mahal karena dari roll film isi 36 saya biasa hanya mendapatkan 2-3 shot yang bagus. Hasil foto tidak dicetak satu persatu tapi dicetak dalam bentuk contact print dimana 36 exposure dicetak dalam satu kertas seukuran A4. Kemudian diperiksa dengan loupe.

Greg sendiri hanya menggunakan kamera Hasselblad karena tuntutan kualitas pekerjaan dia.

Sepulang dari kuliah di Australia saya vakum motret 10 tahunan sampai akhirnya di tahun 2011 teman saya (Michael owner camera shop V3 Technology) membujuk saya membeli Canon Eos 7D dengan lensa 50mm f/1.4. Saya setuju dan sejak itu motret lagi.


Contoh bodi Canon 7D

Saya tidak lama menggunakan Canon 7D karena memang saya tidak suka kamera DSLR super canggih yang gambot. Fuji X-Pro1 di luncurkan akhir tahun 2012 dan saya segera beralih sistem. Dengan Fuji X-Pro1 saya merasa lebih nyaman motret meskipun tidak 100% karena saya masih menginginkan focusing dengan split prism yang tidak bisa diakomodasi oleh Fuji X-Pro1.

Fuji X-Pro1, lensa Fuji XF 35mm f/1.4

Saya sangat terkesan dengan lensa Fuji XF 35mm f/1.4 karena memiliki kontras yang tinggi dan warna yang cemerlang, tapi kepuasan saya tidak bertahan lama. Ternyata lensa modern ini tidak cocok untuk portrait karena terlalu tajam, gradasi warna kurang smooth, dan kontras yang kelewat tinggi.

Sejak itu saya mulai meriset lensa-lensa jadul Leitz, Canon, Nikon, dan Zeiss. Ternyata pada tahun 1950-1960an Jepang membuat lensa-lensa berkualitas sangat bagus. Pada masa itu Jepang banyak menjiplak rancang lensa Jerman dan Jepang berusaha keras untuk melampaui kualitas lensa Jerman. Jadi prinsipnya harga tidak terlalu jadi masalah. Lensa Jepang dibuat dengan brass (kuningan) disepuh chrome, bobotnya berat dan awet dengan lens coating mutakhir (kita akan bicarakan lens coating Jepang di artikel berikutnya). Jauh sekali dibanding lensa Jepang modern dimana dibuat dengan plastik dengan biaya produksi semurah mungkin dan kualitas optik yang pas-pas saja. Zaman sekarang lensa buatan Jepang biasanya dibagi 2 kategori, pertama kategori murah meriah, dan kategori kedua untuk Profesional (memang mahal dan kualitas optik prima).

Nah berawal dari rasa penasaran maka saya jadi banyak belajar tentang lensa jadul. Untuk kedepan kita akan membahas sejarah perkembangan lensa kamera beserta ulasan lensa-lensa menarik dengan karakteristik yang khas. Semoga apa yang saya dapat bisa saya sharing-kan bagi sesama fotografer.